Banten dalam 3 Masa – Kerajaan, Penjajahan, dan Masa Kini

Banten mungkin termasuk salah satu provinsi terbaru di Indonesia, tetapi sejarah Banten dimulai pada abad ke-5 saat Kerajaan Tarumanegara disusul oleh sejarah Kerajaan Banten terukir. 

Wilayah Banten bertahan dengan berbagai pergantian kerajaan hingga kesultanan. Wilayah yang berada di paling ujung pulau Jawa ini juga memiliki ciri khas, adat istiadat hingga budaya yang dipengaruhi oleh kerajaan yang pernah menguasai daerah ini. 

Supaya kamu lebih paham mengenai sejarah kerajaan Banten dan perkembangan Banten di masa penjajahan hingga masa kini, aku sudah merangkum perjalanan sang Tanah Jawara di artikel ini. Jangan lupa baca hingga selesai ya!

Banten pada Masa Kerajaan 

Di bawah Kekuasaan Kerajaaan Tarumanegara 

Sebelum nama nusantara tercetus, sama seperti provinsi lainnya di Indonesia, wilayah Banten juga memiliki beberapa kerajaan yang pernah berdiri di atas tanahnya. 

Sebelum pengaruh Islam masuk dan kerajaan Hindu-Budha menguasai nusantara, Banten masuk dalam wilayah Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang pernah memerintah di wilayah barat Jawa pada abad ke-4 sampai abad ke-7 Masehi.

Kerajaan Tarumanegara merupakan kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara dan raja yang pernah berkuasa serta sangat terkenal dalam masa kepemimpinannya adalah raja ketiga dari Tarumanegara yaitu Raja Purnawarman. 

Bukti bahwa Banten pernah menjadi bagian dari Kerajaan Tarumanegara adalah ditemukannya prasasti di daerah Lebak, Banten. 

Prasasti ini bernama Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul atau Prasasti Lebak ditemukan di aliran sungai Cidanghiang yang mengalir di desa Lebak, Kecamatan Munjul, Pandeglang, Banten, Indonesia. Isi prasasti ini adalah puji-pujian bagi Raja Purnawarman.

Selain Prasasti Lebak, terdapat 6 prasasti lainnya sebagai bukti kejayaan kerajaan ini, yaitu:

  • Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M, ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor.
  • Prasasti Tugu yang terdapat di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Bekasi, kini disimpan di museum-museum di Jakarta.
  • Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor.
  • Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor.
  • Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor.
  • Prasasti Pasir Awi, Coventry, Bogor.

Wilayah kekuasaan Raja Purnawarman menurut prasasti Tugu meliputi hampir seluruh wilayah Jawa Barat yang terbentang dari Banten, Jakarta, Bogor hingga Cirebon.

Daerah Banten sebagai bagian kekuasaan Tarumanegara tidak banyak disebutkan. Kerajaan Tarumanegara sendiri memiliki pusat di dekat Sungai Citarum di daerah Bogor, Jawa Barat. 

Hingga pada 397 M, Raja Purnawarman membangun ibu kota kerajaan baru terletak lebih dekat ke pantai. Kota itu bernama Sundapura dan pertama kali nama “Sunda” digunakan. Sedangkan untuk posisi pastinya jika dibandingkan dengan masa sekarang, wilayah Sundapura masih menjadi perdebatan. 

Dengan petunjuk dekat pantai, banyak sejarawan mengasumsikan ibukota Tarumanegara ini berada di daerah Karawang, Jawa Barat. 

Tarumanegara hanya berhasil memiliki 12 orang raja, kemudian konflik internal dan eksternal kerajaan mulai mencuat ke permukaan. 

Ini bermula saat dua anak dari raja ke-12 Tarumanegara, Raja Linggawarman, menikah dengan lelaki dari kerajaan lain. Putri bungsunya, Putri Sobakancana menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Dan putri sulungnya, Putri Manasih, menikah dengan Tarusbawa atau Sri Maharaja Tarusbawa yang merupakan raja pertama di kerajaan Sunda. 

Sekitar tahun 650 kekuatan Tarumanegara mulai pudar setelah diserang dan dikalahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Setelah itu, pengaruh Tarumanegara terhadap daerah kekuasaannya juga hilang. 

Di bawah Kekuasaan Kerajaan Demak 

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Sebelumnya, Kerajaan Demak adalah Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. 

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah yang masih merupakan keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) raja Majapahit pada tahun 1500. 

Kerajaan Demak meliputi Jepara, Semarang, Tegal, Lembang, Jambi, atau pulau-pulau antara Kalimantan dan Sumatera.

Kerajaan Demak mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggana yang memerintah dari tahun 1521-1546 M. Sultan Trenggana mencoba memperluas wilayah Kerajaan Demak ke Jawa Barat. 

Maka pada 1522, Kerajaan Demak mengirim pasukan ke Barat Jawa dipimpin oleh Fatahillah (Sunan Gunung Jati) menuju ke Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Saat itu, tiga wilayah tersebut masih termasuk dalam wilayah kerajaan Pajajaran.

Wilayah Banten akhirnya bisa direbut oleh Fatahillah, kemudian pihak Demak memperluas penyerangan ke daerah Sunda Kelapa. 

Pada saat yang sama, Portugis datang dengan tujuan ingin membangun kantor perdagangan dan benteng di Sunda Kelapa. Kemudian perang antara armada Portugis dan Demak terjadi dan dimenangkan oleh pihak sehingga armada Portugis dihancurkan. 

Pada tanggal 22 Juni 1527 setelah Sunda Kelapa dikuasai Demak, wilayah ini berganti nama yaitu Jayakarta.

Daftar sultan atau raja yang pernah memimpin Kerajaan Demak:

  • Raden Patah (1475–1518)
  • Pati Unus (1518–1521)
  • Sultan Trenggana (1521–1546)
  • Sunan Mukmin (1546–1549)
  • Arya Penangsang (1549–1554)

Di bawah Kekuasaan Kerajaan Banten 

Sejarah kerajaan Banten dimulai dari bentuk perluasan kekuasaan Kerajaan Demak di ujung barat pulau Jawa. 

Untuk menyebarkan ajaran Agama Islam, Raja Demak saat itu Sultan Trenggono mengutus panglima terkuat dan kepercayaannya, Fatahilah untuk memimpin pasukan Demak menaklukkan daerah Banten dan Sunda Kelapa (Batavia atau daerah Jakarta sekarang).

Fatahilah ini adalah seorang wali dan juga pendiri kerajaan Banten dan Cirebon. Ia juga memiliki nama lain, Sunan Gunung Jati. 

Setelah kemenangan ini Fatahilah akhirnya mengislamkan daerah Banten dan menyerahkan Banten kepada anaknya, Sultan Hasanudin atau Maulana Hasanuddin.

Sedangkan ia sendiri memilih fokus beribadah dan memperdalam Islam serta memutuskan untuk hidup tenang di Cirebon. 

Setelah diwarisi wilayah Banten oleh sang ayah, kerajaan Banten didirikan oleh Sultan Hasanudin. Dia pun mulai membuat peraturan dan dasar-dasar kerajaan. Hingga akhirnya mendeklarasikan diri sebagai Raja Kerajaan Banten pertama pada tahun 1552. 

Sultan Hasanuddin juga mendirikan benteng bernama Surosowan, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan setelah kesultanan Banten merdeka.

Mencapai masa keemasannya pada paruh pertama abad ketujuh belas, Kesultanan Banten bertahan selama 300 tahun (1526-1813 M).

Sultan Hasanudin memiliki misi untuk melepaskan pengaruh Kerajaan Demak dari Kerajaan Banten. Melihat potensi yang sangat besar dari Banten, dimana Banten terletak di tepi Timur Selat Sunda yang menjadi pusat perdagangan saat itu, akhirnya Kerajaan Banten berhasil berkembang secara mandiri. 

Sultan Hasanudin juga memerintahkan untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Banten dengan cara menaklukkan Kerajaan Pajajaran tahun 1519. Misi ini berhasil pada masa kekuasaan raja selanjutnya, yaitu raja Panembahan Yusuf. Karena serangan ini jugalah Kerajaan Pajajaran menemui keruntuhannya. 

Sultan Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah-daerah penghasil lada di Lampung. Ia berjasa dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut dan memiliki hubungan dagang yang baik dengan Raja Malangkabu (Minangkabau, Serikat Inderapura).

Kemudian, raja ketiga Kerajaan Banten Maulana Muhammad juga mencoba meneruskan perjuangan ayah dan kakeknya dengan mencoba menguasai Palembang pada tahun 1596 sebagai bagian dari upaya mempersempit pergerakan Portugal di Nusantara, namun gagal karena ia tewas dalam percobaan penaklukan.

Kerajaan Banten mengalami kejayaan di bawah pimpinan Raja Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Pada masa ini, Banten berhasil memiliki armada yang besar, sumber daya yang banyak dan wilayah kekuasaan yang luas. 

Berikut ini adalah daftar raja yang pernah memimpin Kerajaan Banten:

  • Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin 1552 – 1570
  • Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan 1570 – 1585
  • Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana 1585 – 1596
  • Sultan Mahmud Abu al-Mafakhir Abdulkadir atau Pangeran Ratu 1596 – 1647
  • Sultan Ahmad Abu al-Ma’ali 1647 – 1651
  • Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah 1651-1682
  • Sultan Abu Sultan Haji Abdul Qahar Nashar 1683 – 1687
  • Sultan Abu Fadl Mohammad Yahya 1687 – 1690
  • Sultan Zainul Abidin Muhammad Abul Mahasin 1690 – 1733
  • Fathi Abul Sultan Zainul Arifin Mohammed Shifa 1733 – 1747
  • Syarifah Ratu Fatimah 1747 – 1750
  • Zainul Arif Sultan al-Qadiri Asyiqin 1753 – 1773
  • Sultan Abul Muhammad Aliuddin Mafakhir 1773 – 1799
  • Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1799 – 1803
  • Sultan Abul Muhammad Ishaq Nashar Zainul Muttaqin Nashar 1803 – 1808
  • Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 1809 – 1813

Banten pada Masa Penjajahan 

Namun, kejayaan Kerajaan Banten mulai terusik saat Belanda memasuki wilayah nusantara. 

Armada dagang Belanda yang berlabuh di Banten pertama kali dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1596. 

Awalnya, tujuan utama mereka adalah untuk memperoleh rempah-rempah namun tujuan ini berubah haluan karena melihat kekayaan alam dan letak strategis Banten. Belanda berniat memonopoli dan menjajah daerah setempat. 

Melihat hal tersebut, Raja dari Banten yang gigih menentang VOC adalah Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan raja ke-6 Banten. Karena ia melihat Belanda sebagai saingan bagi kerajaannya dalam hal perdagangan.

Kemudian, sekitar tahun 1680 timbul perselisihan yang mengakibatkan perang saudara di Kesultanan Banten. 

Perang saudara yang terjadi di Banten disebabkan oleh perebutan kekuasaan dan konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji.

Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Belanda, dalam hal ini Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk melakukan strategi politik adu-domba (Devide et Impera) agar bisa memenangkan persaingan dagang di sekitar selat Sunda. Mereka pun berpihak pada Sultan Haji. 

Di sisi lain, Sultan Haji dengan ambisinya, mengirimkan dua orang utusan, menemui Raja Inggris di London pada tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan dan bantuan persenjataan melawan keluarganya sendiri. 

Dalam perang ini Sultan Ageng Tirtayasa terpaksa mundur dan pindah ke wilayah yang disebut Tirtayasa, namun pada tanggal 28 Desember 1682 wilayah ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. 

Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makassar mundur ke selatan pedalaman Sunda. 

Dari 16 raja yang pernah memimpin, terdapat beberapa raja-raja Banten yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. 

Yang pertama, dan sempet aku mention juga di awal bagian ini adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Bisa dibilang beliaulah raja Banten yang paling gigih menolak kedatangan dan ikut campur kolonial Belanda di tanah Banten. 

Ini terlihat dari bentuk perlawanan yang dilakukan Sultan Ageng Tirtayasa dalam blokade terhadap kapal-kapal dagang Belanda menuju Banten. Disamping itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga melakukan perang gerilya dan merampok hasil perdagangan Belanda di Batavia. 

Raja Banten lainnya yang melakukan perlawanan terhadap Belanda adalah Sultan Abul Muhammad Ishaq Zainulmutaqin Nashar. Meski perlawanan yang dilakukannya tidak sekuat Sultan Ageng Tirtayasa, ia menolak perintah Herman Willem Daendels pada tahun 1808 yang saat itu adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk memindahkan ibu kota ke Anyer dan menyediakan pekerja dari Banten untuk membangun Pelabuhan di Ujung Kulon. 

Namun sayang, perlawanan Sultan Abul Muhammad Ishaq Zainulmutaqin Nashar tidak berhasil. Sebagai bentuk kemarahan karena keinginannya tidak dituruti Daendels memerintahkan penyerangan dan penghancuran Istana Surosowan Banten dan menawan sultan beserta seluruh keluarga kerajaan lain di Benteng Speelwijk.

Meski tercatat hampir tiga abad Kerajaan Banten mampu bertahan bahkan sempat mencapai kejayaan yang luar biasa di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Pengaruh Belanda, perang saudara hingga persaingan dengan kekuatan global membuat kerajaan ini bagai kerajaan boneka. 

Perang saudara yang terjadi di Banten meninggalkan periode ketidakstabilan pemerintahan berikutnya. Konflik antara keturunan penguasa Banten serta gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas campurnya VOC semakin menjadi-jadi. 

Akibat konflik yang sedang berlangsung Sultan Muhammad Fathi Abul Zainul Arifin Shifa meminta bantuan VOC untuk meredam beberapa perlawanan rakyat sehingga sejak tahun 1752 Banten menjadi vassal VOC.

Hingga akhirnya kesultanan Banten resmi dihapuskan pada tahun 1813 oleh pemerintah Inggris setelah berhasil menginvasi berhasil Jawa pada tahun yang sama. 

Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan digulingkan oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan terakhir yang mengakhiri sejarah Kesultanan Banten.

Setelah Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda pada tahun 1814 sebagai bagian dari Perjanjian Inggris-Belanda, pada tahun 1817 Kesultanan Banten dijadikan Karesidenan Banten, dan sejak tahun 1926 wilayah tersebut menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. 

Banten pada Masa Kini

Melemahnya kekuatan Jepang dan serangan Bom atom yang dijatuhkan Sekutu di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945 kota Nagasaki membuat Kaisar Jepang, Hirohito terpaksa menyerah tanpa syarat dan mengakui kekalahannya dalam Perang Dunia II pada tanggal 14 Agustus 1945.

Ini menimbulkan keuntungan bagi pihak Indonesia untuk melepaskan diri dan mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus. 

Namun, setelah Indonesia merdeka, perjalanan Banten menjadi provinsi sendiri dan terpisah dari Provinsi Jawa Barat memiliki tahap yang cukup panjang. 

Kejayaan masa lalu untuk menginspirasi masyarakat Kesultanan Banten kembali menjadikan Banten sebagai daerah otonom, reformasi pemerintah Indonesia untuk mendorong peran Provinsi Banten sebagai daerah tersendiri kemudian ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000.

Undang-Undang ini membuat Provinsi Banten menjadi provinsi ke-30 yang dimiliki Indonesia dengan ibukotanya, Serang. 

Tanggal 4 Oktober 2000 ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Banten yang saat itu dipimpin oleh H.D. Munandar sebagai Gubernur dan H. Ratu Atut Chosiyah, SE sebagai wakil Gubernur.

Provinsi Banten berbatasan dengan Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI) di bagian timur, Laut Jawa di bagian utara, Samudra Hindia di sisi selatan, dan Selat Sunda di sisi barat. 

Sama seperti saat masa kerajaan, Provinsi Banten menjadi jalur transit ke pulau Sumatera dan jalur masuk menuju pulau Jawa (jika berangkat dari arah Barat). 

Luas provinsi ini adalah 9.662,82 Km2 dan memiliki populasi lebih dari 11,9 juta pada Sensus 2020. 

Hingga saat ini Provinsi Banten memiliki 4 kabupaten dan 4 kota, di antaranya adalah:

  • Kabupaten Lebak ibukotanya Rangkasbitung 
  • Kabupaten Pandeglang ibukotanya Pandeglang
  • Kabupaten Serang ibukotanya Ciruas
  • Kabupaten Tangerang ibukotanya Tigaraksa
  • Kota Cilegon
  • Kota Serang 
  • Kota Tangerang
  • Kota Tangerang Selatan 

Dari semua kabupaten dan kota yang ada di Banten, terdapat total 155 kecamatan, 313 kelurahan dan 1.238 desa. 

Banten adalah provinsi yang memiliki keberagaman. Wilayah ini dihuni oleh banyak suku bangsa, meskipun yang paling dominan adalah orang atau suku Banten. 

Di Banten, bahasa Sunda digunakan sebagai Basantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan. Bahasa Jawa juga dituturkan oleh banyak orang di provinsi ini terutama orang-orang keturunan Jawa pendatang dari Jawa Tengah atau Jawa Timur dan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi utama. 

Selain itu, hingga sekarang di Kabupaten Lebak juga terdapat masyarakat adat Baduy yang menjunjung tinggi tradisi dan hidup sederhana, 

Orang Badui menyebut diri mereka Urang Kanekes. Urang berarti orang dalam bahasa Sunda, sedangkan Kanekes adalah nama daerah suci mereka yang terletak di Gunung Kendeng di selatan Banten, Jawa. 

Suku Baduy berasal dari kerajaan Pajajaran atau kerajaan Sunda terakhir yang jatuh ke tangan penakluk Islam. Menurut legenda, Badui memberontak melawan Islam, tersesat, dan melarikan diri ke pegunungan di mana mereka berada sekarang.

Suku Baduy terkenal dengan kemampuan mereka untuk mempertahankan citra misterius dengan membatasi komunikasi dengan dunia luar dan menolak untuk berhubungan dengan orang asing. 

Dan untuk melindungi tradisi dan budaya leluhur, masyarakat Badui dibagi menjadi dua kelompok yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. 

Badui dalam, atau anggota suci adalah kelompok orang Badui yang menempati tiga desa suci di Taneh Larangan atau Wilayah Terlarang. Mereka melindungi komunitas mereka dari paparan pengaruh eksternal untuk memastikan kemurnian adat. 

Sedangkan Panamping, atau Badui luar, tinggal di sekitar 28 desa dan mewakili rakyat jelata dan mayoritas penduduk Kanekes. Desa mereka terletak di perbatasan antara Daerah Terlarang dan pemukiman Sunda.

Oke, itu tadi rangkuman mengenai perjalanan Banten, mulai dari Banten dalam sejarah Kerajaan Tarumanegara, sejarah Kerajaan Demak hingga sejarah Kesultanan Banten

Banten juga berhasil bertahan di masa-masa kritis di tengah serangan penjajah dan monopoli perdagangan. 

Di masa sekarang, Banten sudah bisa membuktikan berdiri sendiri menjadi provinsi mandiri dan melepaskan diri dari Jawa Barat dengan tetap mempertahankan tradisi dan adat istiadat leluhur. 

Masih mau belajar materi lainnya? Kamu bisa lho, belajar langsung sama para tutor yang asik lewat live class dengan download aplikasi Zenius atau datengin cabang New Primagama di kotamu. Klik gambar di bawah ini buat info lengkapnya ya!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.