Sejarah Singkat Banten: Daftar Kota dan Kabupaten hingga Keseniannya

Pada artikel ini, kita diajak untuk menilik kembali sejarah singkat kota dan kabupaten di Banten dari mulai awal kemerdekaan Indonesia hingga saat ini.

Banten merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang berada di ujung Pulau Jawa, dikenal secara meluas hingga mancanegara sejak abad ke-14 (1330 M). Pada abad 16 hingga 17, di bawah kekuasaan Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjadi salah satu kota perdagangan rempah di kawasan Asia Tenggara.

Tidak hanya menjadi kota perdagangan rempah, Banten dikenal sebagai pusat kerajaan Islam dan perdagangan nusantara. Pada masa itu Banten dijadikan sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai belahan dunia, sekaligus pusat kebudayaan.

Masa Kerajaan Banten

Sebelum memiliki nama Banten, di masa lalu namanya adalah Bantam dan sejak abad ke-5 ketika menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara. Saat Tarumanegara runtuh, wilayah Banten diambil alih oleh Kerajaan Sunda.

Di masa itu juga, Banten yang berada di posisi strategis pada jalur perdagangan, menjadi salah satu pelabuhan penting di Nusantara. 

Pada abad ke-16, Portugis mulai meluaskan pengaruhnya ke tanah Jawa. Namun, kesultanan Demak dan Cirebon tidak membiarkan hal itu terjadi, sehingga mereka menyerang untuk menaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten sebelum diduduki Portugis.

Berhasil dikuasai, Banten dijadikan kesultanan dengan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati, sebagai raja pertamanya. Kemudian mencapai puncak kejayaan saat diperintah oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).

Di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjadi pusat perdagangan internasional yang maju dengan pesat, menguasai monopoli komoditas lada, dan memiliki tentara yang kuat. Namun, ketika Sultan Ageng Tirtayasa turun takhta, Banten berada dalam cengkeraman VOC karena terjadinya perang saudara di dalam kerajaan.

Masa Penjajahan Belanda

Abad ke-19, Banten diserang Belanda karena sultan yang pada saat itu berkuasa menolak untuk memindahkan ibukotanya ke Anyer.

Peristiwa tersebut membuat Gubernur Jendral Daendels mengumumkan bahwa Banten diambil alih Belanda dan dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda.

Tahun 1817, wilayah Banten dijadikan karesidenan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Hingga akhirnya pada tahun 1926, Banten dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat.

Banten Kini 

Setelah hari kemerdekaan, muncul banyak keinginan yang datang dari para elite serta masyarakat Banten agar wilayahnya memiliki pemerintah berotonomi sendiri kemudian lepas dari Jawa Barat. Hanya saja keinginan tersebut tidak serta merta mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah.

Namun, reformasi memberikan peluang besar untuk terjadinya pemekaran wilayah. Cita-cita memisahkan diri dari Jawa Barat akhirnya terwujud ketika pemerintah bersama DPR mengesahkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2000 tentang pembentukan Provinsi Banten.

Masyarakat pun sepakat menjadikan tanggal 4 Oktober sebagai hari jadi Provinsi Banten serta menjadikan Kota Serang sebagai Ibu Kotanya. Hakamuddin Djamal tercatat sebagai Gubernur pertamanya yang dipilih secara aklamasi oleh pemerintah pusat.

Hingga saat ini, Banten memiliki wilayah seluas 9.160,70 km2 yang mencakup 4 kota di Banten dan kabupaten, 154 kecamatan, 262 kelurahan, dan 1.273 desa. 

Berikut daftar kabupaten dan kota di Banten:

  1. Kota Cilegon
  2. Kota Serang
  3. Kota Tangerang
  4. Kota Tangerang Selatan
  5. Kabupaten Lebak
  6. Kabupaten Pandeglang
  7. Kabupaten Serang
  8. Kabupaten Tangerang

Banten dekat dengan Kota Jakarta dan menjadi wilayah penyangga serta jalur penghubung antara Jawa dan Sumatera.

Wilayah utara Banten berbatasan dengan Laut Jawa, sedangkan bagian timurnya berbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat. Daerah selatan Banten berbatasan dengan Samudera Indonesia dan wilayah baratnya berbatasan dengan Selat Sunda.

Bandar udara internasional Soekarno Hatta pun terletak di Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Banten.

Budaya dan Bahasa Banten

Suku pedalaman yang menetap di Kabupaten Lebak provinsi Banten adalah Suku Badui. Suku Badui merupakan suku asli Sunda Banten yang terus menerus melestarikan tradisi anti modernisasi, secara berpakaian maupun pola hidupnya.

Suku Badui-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektar di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Masyarakat Badui umumnya tinggal di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah tersebut terkenal sebagai daerah tanah titipan dari nenek moyang yang wajib dipelihara dan dijaga dengan baik.

Sebagian besar masyarakat Banten memeluk Agama Islam serta memiliki tingkat kereligiusan yang tinggi, namun pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai.

Kekhasan budaya Banten, antara lain: Seni Bela Diri Pencak Silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. 

Sementara beberapa lagu tradisional Banten di antaranya adalah Uti Uti Uri, Bendrong Lesung, Tong Sarakah, Ibu, Cemore, Jereh Bu Guru, dan Basisir Carita.

Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak lainnya.

Bahasa yang dituturkan warga asli yang tinggal di Provinsi Banten sehari-hari memakai dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek itu dikategorikan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern. Bahasa Sunda modern sendiri memiliki beberapa tingkatan, dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal). Tingkatan ini pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian tenggara Provinsi Jawa Barat).

Akan tetapi di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang, masyarakat banyak yang menggunakan Bahasa Sunda Campuran, Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa.

Sedangkan pada bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Selain bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh warga pendatang dari bagian lain Indonesia

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.