Rumah Adat Jawa Timur – Sejarah, Keunikan dan Filosofi

Halo teman-teman! Pada artikel kali ini aku akan memberikan penjelasan mengenai rumah adat Jawa Timur. 

Mulai dari sejarah terbentuknya, keunikan, hingga filosofi di balik keunikan rumah adat Jawa Timur. 

Di Indonesia, sebenernya masing-masing adat punya rumah adatnya sendiri-sendiri. Tercatat ada 34 rumah adat yang berasal dari masing-masing provinsi di Indonesia. 

Kalau kamu adalah suku Jawa atau lebih khususnya daerah Jawa Timur, apakah kamu tau nama rumah adat dari daerah ini?

Atau kalo kamu berasal dari suku dan daerah lain, apakah kamu tau nama rumah adat dari daerah tempat orang tuamu berasal?

Nah, sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku di atas, kita akan berkenalan dengan rumah adat Jawa Timur yang ternyata tidak hanya ada di Jawa Timur saja lho. Tetapi juga menjadi rumah adat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Wah, kok bisa ya?

Untuk mendapatkan jawabannya, baca artikel ini sampai selesai ya.

Sejarah Rumah Adat Jawa Timur

Di bagian ini gue akan menjawab, apa nama rumah adat dari Jawa Timur dan apa keunikannya? 

Nama rumah adat Jawa Timur adalah Joglo dan Situbondo. 

Yang pertama, aku akan menjelaskan mengenai rumah adat Situbondo. Mungkin kamu pernah mendengar nama rumah adat Joglo, tapi bagaimana dengan rumah adat Situbondo?

Jadi, rumah adat Situbondo adalah rumah adat Jawa Timur yang bentuknya terpengaruh dari kebudayaan daerah tetangganya yaitu Madura. 

Yang membuat rumah adat Jawa Timur ini unik adalah Rumah Situbondo tidak memiliki pintu belakang dan kamar-kamar. 

Tetapi Rumah Situbondo memiliki dua teras atau serambi. Serambi depan digunakan untuk menerima tamu laki-laki dan serambi belakang atau samping digunakan untuk menerima tamu perempuan. Sehingga tamu yang berbeda jenis kelamin tidak bercampur dalam satu teras. 

Selanjutnya adalah rumah adat Jawa Timur, Joglo. Kamu gak perlu bingung kalau menemukan rumah Joglo sebagai rumah adat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Karena memang ketiga daerah ini memiliki rumah adat yang sama. 

Bahkan bentuk arsitektur keraton Yogyakarta juga menggunakan arsitektur rumah Joglo. Contohnya, Kedhaton yang merupakan plataran utama yang memiliki tataran hirarki tertinggi di kawasan keraton. 

Bentuk rumah adat Joglo di Jawa Timur juga sebenarnya mirip dengan Joglo yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Dan kalau kita tarik ke belakang mengenai sejarah terbentuknya rumah adat Jawa Timur yang satu ini, rumah Joglo adalah hasil dari perpaduan sinkretisme pada jaman dulu. 

Saat Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakat yang tinggal di Jawa Timur lebih banyak yang memeluk agama dari masa kerajaan Hindu-Budha yang pernah berkuasa atau animisme. 

Arsitektur rumah adat Jawa Timur khususnya pada atap rumah Joglo memiliki filosofi persatuan dari berbagai macam agama dan kepercayaan di Jawa Timur. 

Bahan utama rumah Joglo adalah kayu Jati karena kayu ini memiliki banyak kelebihan. 

Kayu Jati memiliki kandungan minyak yang tinggi sehingga sangat tahan terhadap perubahan cuaca, sehingga menawarkan elastisitas yang baik. 

Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa kayu Jati adalah kayu yang ideal untuk furnitur luar ruangan, dek kapal, hingga rumah.

Manfaat besar lainnya dari kandungan minyak Jati yang tinggi adalah memberikan kayu ini ketahanan yang tinggi terhadap serangan serangga.

Ngomong-ngomong mengenai kayu Jati, kamu tau gak sih ternyata ada alasannya lho kenapa orang jaman dulu memilih kayu ini sebagai bahan untuk membangun rumah mereka. 

Menurut Dinas Kehutanan Jatim, hutan jati merupakan hutan tertua dan terbaik pengelolaannya di Indonesia. Bahkan pada abad ke-16 hutan jati telah dikelola dengan baik oleh orang-orang yang dahulu tinggal di sekitar Bojonegoro, Jawa Timur.

Ini karena tanah Jawa, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah, memiliki iklim yang cocok dengan tumbuhan bernama latin Tectona grandis ini. 

Bahkan hingga sekarang, di masa modern seperti ini tidak berubah. Wilayah Jawa Timur penghasil kayu Jati terbesar adalah Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Bojonegoro. Sedangkan untuk Jawa Tengah diwakili oleh Kabupaten Blora. 

Nah, Kabupaten Bojonegoro ini berbatasan langsung dengan daerah Jawa Tengah, makanya iklim, cuaca dan jenis flora yang tumbuh di dua provinsi ini mirip-mirip.

Tercatat, luas areal yang ditanami pohon Jati di Kabupaten Ngawi mencapai 300 Ha pada tahun 2014 dengan total produksi sebesar 1.863,29 M

Sedangkan untuk Kabupaten Bojonegoro wilayah pengelolaan hutan mencapai 40 persen dari total tanah dan 50.170 HA yang telah ditanami pohon Jati dengan total produksi sebesar 10 ribuan per tahun.

Oke, balik lagi ke sejarah rumah adat Jawa Timur yang dimulai saat daerah ini masih dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang memeluk agama Hindu-Budha.

Itulah kenapa atap rumah Joglo mirip dengan bentuk candi-candi yang ada di Jawa Timur, seperti Candi Borobudur. 

Salah satu kerajaan Hindu-Budha terbesar yang pernah berdiri di Jawa Timur bahkan di Nusantara adalah Kerajaan Majapahit. 

Namun pamor Kerajaan Majapahit mulai merosot sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Salah satu yang terkuat adalah Kerajaan Demak. 

Islam menjadi menarik di mata masyarakat pemeluk Hindu-Budha karena beberapa hal, di antaranya:

  • Tidak ada sistem kasta dalam Islam
  • Penyebarannya dilakukan dengan cara damai
  • Syarat masuknya mudah (hanya mengucapkan dua kalimat syahadat)
  • Tidak ada tentangan atas tradisi (wayang, tari-tarian, dll)

Meskipun Kerajaan Majapahit, terutama saat di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk telah terkenal dengan tingginya toleransi antar agama (itu sebabnya Majapahit punya dua agama mayoritas). 

Kekuatan dan pamor dari kerajaan Islam semakin kuat dan perebutan kekuasaan antara penerus Raja Hayam Wuruk (masalah internal kerajaan) membuat Majapahit runtuh pada abad ke 16. 

Masuknya Islam ke Jawa Timur juga memberikan dampak baru dalam bentuk bangunan. Contohnya masjid dan makam. 

Islam pun melarang pembakaran jenazah yang merupakan ajaran dalam agama Hindu-Budha, sebaliknya jenazah bersangkutan harus dimakamkan di dalam tanah. 

Ini juga memberikan dampak kepada bentuk rumah adat Jawa Timur atau rumah Joglo. 

Contohnya adalah bentuk atap pada rumah Joglo yang beragam, setidaknya ada lima jenis atap rumah Joglo. 

Dan salah satu di antaranya dipengaruhi oleh ajaran Islam, terutama arsitektur dari masjid.

  • Atap Panggang Pe

Adalah model atap rumah Joglo yang bentuknya seperti atap rumah pada umumnya. Ciri khasnya adalah memiliki satu sisi yang lebih miring dari sisi lainnya. 

Rumah Joglo dengan atap jenis ini biasanya dimiliki oleh orang biasa yang digunakan untuk berjualan. 

  • Atap Kampung

Orang yang memiliki rumah Joglo dengan atap seperti ini juga biasanya dari kalangan orang biasa. 

Atap kampung adalah atap yang memiliki ketinggian sisi sama sehingga bentuknya seperti segitiga yang mengerucut. 

  • Atap Limasan

Model selanjutnya adalah atap rumah Joglo bentuk limasan atau segitiga tumpul. Orang yang memiliki rumah joglo dengan atap ini biasanya termasuk orang yang berada.

  • Atap Joglo

Inilah atap yang paling sering kita lihat kalau sedang mencari gambar rumah Joglo di Google. 

Rumah Joglo di beberapa kesultanan Jawa juga menggunakan atap jenis ini karena atap ini menandakan pemiliknya adalah seorang bangsawan.

  • Atap Tajug

Pengaruh Islam dalam rumah adat Jawa Timur terlihat dalam bentuk atap yang satu ini. Rumah Joglo dengan atap tajug membedakannya dengan rumah Joglo yang digunakan untuk tempat tinggal sehari-hari. 

Karena rumah Joglo dengan atap ini biasanya digunakan untuk beribadah atau sebagai masjid dengan ciri bentuk atap yang runcing di empat sisi. 

Keunikan Rumah Adat Jawa Timur 

Rumah adat Jawa Timur, khususnya Rumah Joglo memiliki keunikan tersendiri dibandingkan rumah adat lainnya. 

Keunikan ini dipengaruhi juga oleh sistem kepercayaan dan adat istiadat yang berkembang di Jawa Timur sejak dahulu kala. 

Secara umum, bagian rumah Joglo dibagi menjadi 5 bagian yaitu:

  • Pendopo
  • Pringgitan
  • Dalem Ageng
  • Krobokan
  • Pawon atau Gadhok

Pendopo atau teras adalah bagian pertama yang akan kamu temukan ketika datang ke rumah Joglo. 

Umumnya bentuk pendopo pada rumah Joglo adalah persegi dengan empat tiang penyangga di bagian depan mengikuti bentuk atap Joglo. 

Selanjutnya adalah bagian Pringgitan. Ini adalah bagian rumah yang menghubungkan antara pendopo dengan pringgitan. Kalau kita mengasosiasikannya dengan konsep rumah modern, fungsi Pringgitan mirip dengan ruang tamu. 

Nah, di bagian Pringgitan inilah hubungan tuan rumah dengan tamu yang cukup dekat dengannya terjalin (karena tamu sudah dipercayai masuk rumah). Pringgitan juga sering digunakan sebagai tempat pertunjukan wayang. 

Bagian selanjutnya adalah Dalem Ageng. Perlu kamu tau, semakin masuk ke dalam rumah Joglo maka semakin privat ruangan tersebut. 

Dalem Ageng adalah daerah yang biasanya hanya bisa dijangkau oleh tuan rumah dan anggota keluarganya. 

Dalem ageng berisi kamar-kamar tempat beristirahat anggota keluarga. Kamar-kamar ini disebut sebagai Senthong. 

Jenis Senthong di Dalem Ageng juga dibagi lagi menjadi tiga jenis yaitu:

  • Senthong Kiwa
  • Senthong Tengah 
  • Senthong Tengen

Senthong Kiwa adalah kamar bagi anggota keluarga yang laki-laki, Senthong tengen adalah kamar untuk anggota keluarga perempuan. 

Yang cukup unik adalah Senthong Tengah atau yang memiliki nama lain Krobokan. Jadi Krobokan adalah kamar khusus untuk pemujaan kepada Dewi Sri, sang Dewi Padi atau Dewi kesuburan. 

Jaman dahulu, para petani pemilik rumah Joglo biasanya memiliki kamar atau ruangan sendiri untuk menyimpan hasil pertaniannya, di sinilah Krobokan tercipta. 

Meskipun ruang krobongan biasanya selalu kosong namun selalu lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling, dan dapat juga digunakan untuk malam pertama bagi pengantin baru. 

Perawatan yang baik pada Kerobokan adalah bentuk sanjungan kepada Dewi Sri yang telah memberikan hasil panen yang melimpah dan harapan hasil panen selanjutnya akan lebih baik lagi. 

Inilah kepercayaan yang mengakar dan akhirnya mempengaruhi arsitektur rumah Joglo dan menciptakan keunikan rumah adat Jawa Timur yang satu ini. 

Yang terakhir adalah bagian Pawon atau Gandhok. Bukan rumah namanya kalau tidak ada ruangan untuk memasak makanan dan buang hajat. 

Kamu tidak perlu khawatir karena arsitektur rumah Joglo sudah cukup lengkap. 

Pawon atau Gadhok biasanya berbentuk memanjang dari kiri ke kanan antara Pringgitan dan Dalem Ageng. 

Ada Pawon yang berfungsi sebagai dapur dan ada pula Pawon yang berfungsi sebagai kamar mandi atau WC. 

Pada daerah Pawon atau Gadhok sifatnya sudah sangat sakral, karena berkaitan pula dengan urusan “pribadi” pemilik rumah, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk ke daerah ini. 

Filosofi di Balik Keunikan Rumah Adat Jawa Timur 

Arsitektur dalam rumah adat Jawa Timur yaitu Joglo tidak hanya terbentuk dari sejarah kerajaan Hindu-Budha dan Islam yang pernah bertahta di atasnya. 

Bentuk rumah Joglo, mulai dari luar hingga dalam juga memiliki filosofi tersendiri yang sudah melekat erat dalam kepercayaan masyarakat Jawa sejak dulu kala. 

Atap rumah Joglo adalah hasil stilasi atau teknik mengubah bentuk yang bersumber dari objek asli ke bentuk baru dari berbagai sudut, namun unsur objek aslinya tetap terlihat. 

Seperti rumah umumnya yang memiliki bahan baku utama kayu, Rumah Joglo juga memiliki penyangga agar tetap kokoh. Nama penyangga dalam rumah Joglo adalah Saka Guru dengan jumlah empat buah dan pada bagian bawahnya ditopang dengan bebatur (umpak) yang berbahan dasar batu. 

Atap rumah Joglo ini bersumber dari bentuk gunung yang memiliki filosofi sebagai naungan. Tidak hanya sebagai tempat tinggal namun juga sebagai naungan umat (digambarkan dengan bentuk atap Tajug yang digunakan untuk beribadah). 

Sedangkan filosofi Pendopo adalah sebagai wilayah paling depan di rumah Joglo. Ini adalah bagian terluar dari sebuah rumah dan tahap pertama yang harus dilewati tamu jika berkunjung. 

Kalau kamu melihat bentuk Pendopo pada rumah Joglo, bentuknya kebanyakan melebar atau memanjang ke samping. Ini menunjukkan sifat keterbukaan yang ingin diberikan tuan rumah kepada semua tamu yang datang ke rumahnya. 

Lalu filosofi ruang Pringgitan sebenarnya cukup mirip dengan Pendopo karena ruangan ini penghubung antara Pendopo (bagian luar Joglo) dan Dalem Ageng (bagian privat). Namun Pringgitan lebih kental akan hubungan tuan rumah dengan kekuatan spiritual yang diyakininya. 

Seperti yang udah aku mention di atas, Pringgitan adalah tempat di mana biasanya pertunjukan wayang ditampilkan di rumah Joglo. Ini adalah simbolisasi tuan rumah bahwa ia adalah wayang dari Dewi Sri. 

Pringgitan seperti pembukaan sebelum kamu memasuki Dalem Ageng yang di dalamnya juga terdapat Krobokan. 

Dalem Ageng adalah daerah privat bagi tuan rumah dan anggota keluarganya, ini juga dicirikan dengan adanya undakan atau lantai ruangan yang lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya. 

Di sisi lain, Krobokan bukan hanya tempat privat namun juga ruang yang disucikan dalam rumah. 

Dahulu, sebelum Islam masuk ke Jawa Timur, mayoritas orang yang bekerja sebagai petani adalah pemeluk agama Hindu. 

Kepercayaan Hindu membuat orang-orang menumpukan kesejahteraan agraris mereka kepada dewi kesuburan atau Dewi Sri. Masyarakat Jawa jaman dulu juga percaya bahwa pemilik rumah yang sebenarnya adalah Dewi Sri, oleh karena itu di dalam Krobokan biasanya disimpan hasil panen pertama dan beberapa benda berharga pemilik rumah. 

Gandhok dan Pawon secara filosofis sebenarnya memiliki nilai yang cukup berbeda dari ruangan yang disucikan (Krobokan). Pawon lebih bersifat teknis, di mana ruangan ini dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, misalnya memasak atau buang air. 

Kalau kamu pernah datang ke rumah nenek-kakekmu di Jawa, mungkin kamu sudah tidak asing dengan dapur dan kamar mandi yang dibangun “agak” jauh dari rumah utama. Biasanya dua ruangan ini terletak jauh di belakang. 

Berbeda dengan rumah model zaman sekarang, yang setiap kamar bisa memiliki kamar mandi sendiri dan ruangan dapur yang bergabung bersama ruang tengah atau ruang makan. 

Ini adalah konsep closed ended plan yang diterapkan dalam arsitektur rumah Joglo. Artinya ruangan akan dipisahkan berdasarkan aktivitas yang dilakukan pemilik rumah dan tingkat privasi yang dimiliki setiap ruang. 

Oke, sekarang kamu udah tau kan mengenai sejarah, keunikan hingga filosofi di balik rumah adat Jawa Timur. 

Jadi kalau gurumu punya pertanyaan, apa nama rumah adat dari Jawa Timur dan apa keunikannya, aku harap kamu bisa menjawab dengan baik dan lengkap ya!

Oh iya, rumah adat adalah salah satu kekayaan budaya yang harus kita jaga dan kita pelihara dengan baik supaya generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dari generasi sebelumnya. 

Ini adalah kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk kamu dan aku. Kira-kira cara melestarikan budaya seperti apa yang sudah kamu lakukan sejauh ini? Coba tulis di kolom komentar ya~

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.